antropologi upacara penyambutan
cara dunia menerima tamu melalui makanan dan tarian
Pernahkah kita bertamu ke rumah kerabat, lalu tiba-tiba disuguhi makanan porsi kuli padahal kita sudah kenyang? Atau mungkin, kita pernah berkunjung ke suatu daerah dan disambut dengan nyanyian serta tarian heboh yang bikin kita tersenyum kikuk dan salah tingkah? Saya rasa, kita semua pernah berada di posisi itu. Rasanya memang agak canggung, tapi kita tahu betul niat mereka sangat baik. Pertanyaannya, kenapa sih manusia punya obsesi yang begitu besar untuk "merepotkan diri" saat ada tamu? Kenapa kita tidak cukup berjabat tangan, bilang "halo", lalu duduk santai saja? Mari kita bongkar misteri perilaku manusia ini bersama-sama.
Untuk memahami hal ini, kita harus mundur sebentar ke masa lalu. Di era prasejarah, bertemu orang asing bukanlah pengalaman yang santai untuk ngopi-ngopi sore. Ribuan tahun lalu, wajah baru di perbatasan wilayah kita punya probabilitas yang sangat tinggi untuk membawa masalah. Entah mereka mau mencuri makanan, mengklaim tanah, atau membawa penyakit asing. Jadi, otak nenek moyang kita selalu berada dalam mode waspada atau fight or flight. Tapi di sisi lain, sebagai spesies yang sangat bergantung pada kerja sama sosial, kita juga butuh sekutu baru untuk bertahan hidup. Di sinilah dilema psikologis yang fatal muncul. Bagaimana cara kita mengubah sinyal ancaman menjadi sinyal persahabatan dalam waktu yang sangat singkat? Ternyata, nenek moyang kita menemukan dua cara universal yang terbukti ampuh meretas rasa curiga tersebut: kalori dan koreografi. Atau dalam bahasa kita sehari-hari: makanan dan tarian.
Coba kita lihat beragam tradisi unik di dunia. Mari perhatikan tradisi Haka dari suku Maori di Selandia Baru. Kalau kita tidak tahu konteksnya, tarian penyambutan ini terlihat sangat menyeramkan. Mata melotot, lidah menjulur, teriakan keras, dan hentakan kaki yang menggetarkan tanah. Kenapa menyambut tamu istimewa dengan gestur yang terlihat agresif? Di belahan bumi lain, masyarakat Slavia di Rusia punya tradisi Khleb-sol. Tamu penting akan dihadang dengan roti bundar besar dan garam. Sang tamu wajib mematahkan roti, mencelupkannya ke garam, lalu memakannya tepat di depan tuan rumah. Praktiknya berbeda-beda secara ekstrem di setiap budaya. Ada yang menyambut lewat gerakan fisik yang mengintimidasi, ada yang lewat paksaan mengunyah karbohidrat. Apa benang merah dari semua ritual yang terkesan acak ini? Apa yang sebenarnya sedang diproses oleh otak manusia saat melihat tarian tajam dan menelan hidangan tuan rumah?
Jawabannya terletak pada neurobiologi kepercayaan. Saat kita makan bersama orang asing, kita sebenarnya sedang mematikan alarm bahaya di otak mereka. Sistem saraf kita bergeser secara paksa dari mode stres menjadi mode rest and digest (istirahat dan cerna). Secara biologis, sangat sulit bagi otak kita untuk merasa terancam saat rahang kita sedang sibuk mengunyah pisang goreng atau roti yang hangat. Berbagi makanan adalah bukti evolusioner paling primitif yang mengatakan: "Saya tidak meracuni Anda, dan saya rela mengorbankan sumber energi saya untuk Anda." Lalu, bagaimana dengan tarian? Dalam kajian antropologi, tarian berfungsi sebagai penanda niat. Saat suku Maori melakukan Haka, mereka memamerkan kekuatan tempur suku mereka, namun dalam formasi seni yang sangat terkontrol. Ini adalah sinyal bawah sadar yang cerdas: "Kami sangat kuat, kami bisa saja menyakitimu, tapi lihatlah, kami memilih untuk menjadikannya hiburan di depanmu." Lebih hebatnya lagi, tarian menciptakan interpersonal synchrony. Saat kita melihat sekelompok orang bergerak dan bernyanyi seirama, otak kita memproduksi oksitosin, yakni hormon pengikat sosial. Di saat yang sama, ritme tarian menurunkan hormon stres kortisol di tubuh kita. Ini adalah manipulasi psikologis tingkat tinggi untuk mengubah status outsider (orang luar) menjadi insider (orang dalam).
Jadi teman-teman, upacara penyambutan itu jauh lebih dari sekadar basa-basi budaya atau aturan tata krama. Itu adalah sebuah teknologi purba. Makanan dan tarian adalah software yang diciptakan nenek moyang kita untuk memastikan kelangsungan hidup, dengan cara mengubah musuh potensial menjadi sekutu yang setia. Menyadari fakta ilmiah ini membuat saya memandang tradisi bertamu dengan kacamata yang jauh lebih hangat. Lain kali kita disuguhi sepiring penuh makanan saat bertamu, atau dipaksa ikut menari di acara adat teman kita, cobalah untuk tidak buru-buru menolak atau merasa risih. Ingatlah bahwa di balik rasa canggung itu, tuan rumah sebenarnya sedang menggunakan sandi rahasia umat manusia. Mereka sedang meretas otak kita, menurunkan pertahanan kita, dan berkata dalam bahasa biologi yang paling tua: "Kamu aman di sini, dan sekarang kamu adalah bagian dari kami."